Kontribusi Perempuan dalam Pembangunan Daerah & Pengembangan Kearifan Lokal

BANDUNG.SJN COM.-Oleh GKR Hemas (Anggota DPD RI).

Kita baru saja melewati peringatan 76 tahun kemerdekaan Indonesia dalam suasana pandemi yang memprihatinkan secara global. Saat ini selain semua serba dibatasi, kesulitan ekonomi dirasakan mayoritas masyarakat kita. Begitu juga tenaga wafatnya paramedis, diantaranya perawat yang kebanyakan perempuan.

Masa pandemi ini, beban perempuan juga semakin berat baik di ruang domestik dan ruang public. Aktifitas pembelajaran daring anak-anak, belanja di pasar dan merawat keluarga yang sakit juga menjadikan perempuan lebih rentan terkena C19. Belum lagi pendapatan ekonomi bermasalah karena PHK dan lainnya rentan mendorong potensi KDRT.

Kita juga belum sepenuhnya melupakan Pemilu dan Pilpres 2019 ada suasana rivalitas yang begitu memprihatinkan dengan suasana rivalitas yang sifatnya jauh dari cermin karakter ke Indonesia-an. Namun kita menyadari, saat bersamaan juga tak mampu memungkiri adanya peningkatan intoleransi, radikalisme dan ekstrirmisme secara global.

anak-anak, belanja di pasar dan merawat keluarga yang sakit juga menjadikan perempuan lebih rentan terkena C19. Belum lagi pendapatan ekonomi bermasalah karena PHK dan lainnya rentan mendorong potensi KDRT.

Kita juga belum sepenuhnya melupakan Pemilu dan Pilpres 2019 ada suasana rivalitas yang begitu memprihatinkan dengan suasana rivalitas yang sifatnya jauh dari cermin karakter ke Indonesia-an. Namun kita menyadari, saat bersamaan juga tak mampu memungkiri adanya peningkatan intoleransi, radikalisme dan ekstrirmisme secara global.

Menyoroti 3 hal terakhir, saya berharap kita mempunyai perhatian dan mengkritisi adanya perubahan perilaku dan pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama ada pergeseran menjadikan perempuan bahkan basis keluarga sebagai pelakunya. Bom di Surabaya dan Makassar serta peristiwa di Kantor Mabes Polri Jakarta menjadi bukti yang tidak boleh diabaikan. Padahal seharusnya dengan sebagai sang empu kehidupan dengan kodrat rahim yang dimilikinya, perempuan punya jiwa merawat dan melindungi kehidupan lebih besar. Maka tak heran contoh konflik di Poso dan Maluku, banyak catatan sejarah perempuan justru berperan menjadi pihak yang berani memulai inisiasi perdamaian.

Kembali pada isu intoleransi, radikalisme dan ekstrimisme secara global, kita sangat dituntut mempunyai kesadaran berbangsa dan bernegara yang semaikin kuat. JASMERAH (Jangan lupa akan sejarah) menjadi kunci kita dalam meneguhkan diri, bahwa menjadi Indonesia itu sebuah perjalanan yang panjang. Bersyukur konsensus kebangsaan kita; Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 kembali dikuatkan bahkan menjadi komitmen setiap anggota parlemen untuk mensosialisasikannya,

Memang banyak yang mencemaskan upaya penggerusan terhadap ideology Pancasila saat ini sungguh nyata dengan

mendorong alternative ideology lain yang ekslusif dan tidak cocok dengan realitas keberagaman masyarakat kita.

Banyak hikmah bisa kita lihat dalam suasana pandemi ini, diantaranya ternyata habitus Pancasila masih kuat dalam masyarakat kita. Tanpa instruksi dan gelontoran dana dari manapun, banyak muncul inisiasi kegiatan gotong royong dilakukan yang menjadi gerakan kebajikan tanpa mempersoalkan siapa yang menolong dan siapa yang ditolong. Semua murni untuk kemanusiaan. Mulai dari membagikan masker gratis, sembako, jogo tonggo dengan pendampingan isoman sampai pelaksanaan vaksinasi yang menggerakan semua unsur pemerintahan, komunitas dan organisasi kemasyarakatan, swasta dan lainnya.

Ini membuktikan bahwa Pancasila bukan ideology pungutan dan keberagaman itu kekuatan jati diri bangsa yang tidak boleh dilemahkan apalagi dihilangkan. Sumbernya tentu saja dari kekuatan kearifan lokal yang merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakatnya itu sendiri.

Kearifan lokal juga melahirkan filosofi budaya yang mencerminkan laku hidup masyarakat yang mencerminkan tata kelola nilai hidup bersama. Di DIY misalnya, Sultan Agung mempopulerkan filosofi Hamemayu Hayuning Bawono yang maknanya mengutamakan keselamatan, memelihara kehidupan dan menjaga dari kerusakan. Di Maluku ada Pela Gandong, antara suku Banjar dan Dayak di Kalimantan ada filosofi Banding Sanak, Minahasa dengan Torang Samua Basudara, di tanah Sunda dikenal filosofi Silihwangiekun : Nu Jauh Urang Deuketkeun, Ngges Deuket Silih Paheutkeun, Ngges Paheut Silih wangikeun. Dan masih banyak lagi.

Filosofi dari kearifan lokal ini harus dikuatkan kembali menjadi pengetahuan masyarakat kita dan secara formal harus masuk dalam kurikulum nasional kita. Sehingga kita tidak perlu seperti pepatah Gajah dipelupuk mata tidak terlihat, semut di

seberang mata terlihat dengan sibuk hanya memungut teori-teori lain yang mungkin berbeda sejarah dan pengalaman hidup bersamanya.

Pengetahuan kearifan lokal selama ini biasanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tutur cerita ataupun contoh-contoh keteladanan perilaku masyarakat dan pengetahuan pengelolaan hidup disekelilingnya. Perempuan sebagai ibu dan guru pertama anak-anaknya mempunyai peran penting dan strategis dalam mentransformasi pengetahuan kearifan lokal ini pada keturunan dan lingkungannya.

Satu hal lagi, harusnya Indonesia bisa menjadi inspirasi dunia karena sarat memiliki kearifan lokal dan pengalaman mengelola keberagamannya. Kenapa ini menjadi penting? Karena suasana dunia semakin dinamis dengan migrasi manusianya. Maka pasti ada juga migrasi nilai-nilai budaya masyarakatnya.

Oleh karena itu, mari kita terus berkomitmen secara tulus untuk tetap setia pada konsensus nasional kita, karena itulah yang harus dirawat menjadi optimisme Indonesia untuk dunia. Sebagiamana amanah pembukaan konstitusi kita, selain kita menghormati kemerdekaan tiap-tiap bangsa, tujuan peran Indonesia juga untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Maka peran perempuan jangan diabaikan, serta nilai kesetaraan dan keadilan gender dalam proses demokrasi bangsa ini dan juga wajah dunia harus dihormati dan dipraktekan. Dengan demikian kita bisa membangun peradaban di Indonesia bahkan dunia bisa menjadi lebih baik.

Dengan demikian mengambil tema yang diberikan pada saya :besar Kongres kali ini “Kontribusi Perempuan Dalam Pembangunan Daerah dan Pengembangan Kearifan Lokal” bisa menjadi andil juga sesuai dengan tema utama kongres KPPI kali ini untuk mendorong konstribusi perempuan politik dalam membangun Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh.

Demikian disampaikan. Selamat berkongres, smoga perjuangan kita bersama akan semakin kuat kedepan dengan tetap mempertahankan Indonesia dengan konsensus kebangsaannya sebagaimana tertuang dalam sosialisasi 4 pilar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.